Sebuah perampokan membawa pengalaman baru bagi seorang janda yang tinggal di sebuah rumah yang baru ditempatinya. Diikat menjadi satu dengan seorang hansip akhirnya membawa sensasi luar biasa.

Seorang hansip yang kebetulan lewat dan bermaksud memergoki perampokan malah tertangkap oleh para perampok. Ia di bawa masuk kedalam rumah dan diikat bersama pemilik rumah tersebut.

NQK81nqU.jpg large
Pak Parman Setelah Puas Menggarap Meli

Bagi Meli, perampokan di rumahnya menimbulkan trauma sesaat tetapi berakhir dengan sensasi seks yang selama ini tak pernah ia bayangkan.

11848849_108024286219126_1041237586_n
Meli yang Ketagihan

Terikat di lorong sempit dengan tubuh berdempetan berhadapan dengan lelaki lain membuat Meli risih bukan kepalang, apalagi si lelaki hanya mengenakan celana kolor. Tapi perasaan itu terkubur lantaran takut yang dirasakannya melihat kawanan rampok bersenjata itu.

Sekitar tiga menit berbaring berhadapan seperti itu, Meli melihat lelaki di depannya berhasil membuka lakban di mulutnya setelah beruang keras mendorong lakban itu dengan lidahnya.

“Tenang bu.. saya Pak Parman, hansip di kompleks ini. Maaf pakaian saya tadi dilucuti rampok. Sepertinya sekarang mereka sudah pergi, ayo kita berusaha lepaskan ikatan ini bersama ya..,” kata Pak Parman. Meli mengangguk saja dan berharap upaya mereka berhasil.

Pak Parman kemudian melepaskan lakban di mulut Meli dengan cara menggigit sisi lakban dan menariknya. Meli sempat terpekik merasakan perih bibirnya tertarik rekatan lakban, tapi kemudian berusaha tenang.

“Terus bagaimana caranya,” tanya Meli menanyakan cara mereka melepaskan ikatan lakban di tubuh. Sepertinya sulit karena masing-masing tangan mereka terikat ke belakang dililit lakban, sementara lakban lainnya melilit rapat menyatukan bagian pinggang, perut mereka berdempetan.

Pak Parman lalu menjelaskan pada Meli bahwa sifat karet pada lakban dapat digunakan sebagai kesempatan mereka lolos dari ikatan. Caranya dengan terus bergerak agar lakban menjadi molor dan longar elastis.

“Kita masih punya kaki yang bebas bu. Saya akan membalik badan dan ibu harus berusaha berposisi di atas saya. Setelah itu kaki ibu bisa menjejak lantai mendorong ke arah atas tubuh saya… mungkin akan berhasil,” kata Pak Parman. Ia segera mengubah posisi mereka dari yang sebelumnya berbaring miring berhadapan, menjadi saling tindih, Meli berada di atas. Ini dilakukan Pak Parman agar Meli tidak merasa berat jika Pak Parman yang berada di atas, sebab bobot Pak Parman yang tinggi besar tentu akan menyesah Meli bila tertindih.

Posisi Meli sudah di atas tubuh Pak Parman. Ia menuruti perintah Pak Parman dan mulai menggerakan badannya ke arah atas tubuh Pak Parman dengan menjejakkan kaki di lantai. Tapi rok yang dikenakannya menghalangi usaha Meli menjejakkan kaki secara maksimal mekantai, sebab ia harus lebih mengangkangkan kakinya agar bisa melewati kaki Parman di bawah kakinya.

Meli terus berupaya dan akhirnya ia bisa mengangkangkan kaki lebih lebar, akibat gesekan tubuh mereka, rok Meli naik sampai bongkahan pantatnya terlihat. Tapi tak apa, pikir Meli, demi usahanya menjejak kaki ke lantai. Lagi pula Pak Parman tak mungkin melihat pantatnya karena ia berada di bawah Meli.

“Terus goyang bu.. sudah mulai longgar ikatannya,” Parman berbisik pada Meli. Entah mengapa kata-kata “goyang” yang dibisikan Pak Parman membuat Meli risih. Ia baru sadar gerakannya berusaha melepas ikatan terkesan menjadi gerakan yang erotis.

Ia juga baru sadar kalau sejak tadi payudara 36Dnya terus menggerus dada Pak Parman, dan gerakan demi gerakan yang menimbulkan gesekan di tubuh keduanya mulai mempengaruhi libido Meli.

“Astaga.., Pak Parman. Apa ini..? kok terasa keras.. Tolong Pak, Bapak nggak boleh terangsang.. ini dalam kondisi darurat..,” Meli berbisik balik ke Pak Parman saat merasakan sesuatu benda mengeras hangat terasa di bawah pusar Meli. Penis Pak Parman rupanya ereksi setelah beberapa lama merasakan gesekan tubuh Meli.

“Oh.. ehh.. maaf bu.. saya sudah berusaha untuk mengabaikan rasanya tapi gesekan-gesekan itu mengalahkan pikiran saya bu. Maaf bu.. tapi saya pikir ini alami bagi lelaki, yang terpenting sekarang kita harus terus berusaha melepas ikatan ini bu..” Pak Parman agak gugup dan malu menyadari Meli mengetahui penisnya mulai bangun.

“Ya sudah.. nggak apa-apa, asal Pak Parman jangan macam-macam ya..,” kata Meli. Ia sadar tak bisa menyalahkan Pak Parman. Dan lagi benar apa Pak Parman bahwa itu sangat alami dan Meli juga merasakan hal yang sama, ada kenikmatan menjalari tubuhnya setiap kali gerakan bergesek ia lakukan.

Pikirnya, perampokan yang menyebabkan mereka berdua berada dalam posisi terikat seperti itu, dan mereka harus bersama kompak melepaskan ikatan tersebut.

Meli kembali memusatkan pikirannya pada upaya melepaskan lakban. Ia kembali menggerakan tubuhnya menggesek tubuh Pak Parman dari atas ke bawah dan sebaliknya dari bawah ke atas, agar ikatan lakban melonggar. Upayanya cukup berhasil, kini jarak gesekan sudah bisa lebih jauh menandakan lakban mulai longgar elastis.

Bagian perut Meli sudah bisa menjangkau perut Pak Parman bagian atas, Meli berusaha terus menjejak lantai agar tubuhnya terdorong naik lebih jauh.

“Ehmm bu.. coba lagi ke bawah.. terus dorong lagi ke atas.. sudah mulai longgar lakbannya..,” suara Pak Parman semakin parau. Tubuh Meli yang terdorong ke atas membuat penis Pak Parman kehilangan sentuhan, sebab selangkangan Meli kini sudah diatas melewati ujung penisnya.

Meli setuju dengan Pak Parman, mungkin gerakan harus kembali ke bawah lalu kembali lagi ke atas sehingga ikatan lakban makin molor elastis.

Tapi gerakan ke bawah yang dilakukan Meli justru membuat keadaan mereka berdua berubah. Pikiran masing-masing milau terpecah antara kenikmatan yang mulai dirasakan atau upaya melepas lakban.

“Enghhh..,” Meli melenguh kecil. Ia merasakan ujung penis Pak Parman menyentuh CD yang dipakainya. Panis Pak Parman yang sudah sangat tegang terdorong keluar dari balik celana kolornya, lantaran gesekan membuat kolornya melorot. Kini, setiap gerakan Meli membuat koneksi ujung penis Pak Parman kian terasa mendorong-dorong CD Meli. Rasa nikmat kekenyalan itu terasa semakin sering di bibir vagina Meli yang terhalang CD.

Meli terus berupaya memecah pikirannya agar tetap konssntrasi beregerak demi melepas ikatan lakban, tapi semakin bergerak dan semakin gesekan terjadi membuah gairah seksualnya terdongkrak naik. Lama-lama ia merasakan Cdnya membasah oleh cairan vaginannya sendiri. Apalagi, dari bawah Pak Parman juga terus bergerak berusaha melepaskan ikatan lakban ditanganya yang tertindih ke belakang. Hal ini membuat erotisme tersendiri dirasakan Meli.

“Enghh.. ahhss..,” Meli mendesah dan menghentikan gerakannya. Ia menyadari kini posisi sudah sangat gawat. Gerakan-gerakannya justru mengantar ujung penis Pak Parman mengakses bibir vaginanya lewat sisi kiri CD-nya. Meli merasakan kepala penis Pak Parman sudah berada tepat di tengah bibir vaginanya yang basah dan sudah tidak terhalang CD yang kini melenceng ke samping.

“Hmm.. bu, kenapa berhenti.. sudah hampir lepas ikatannya nih..,” Pak Parman terus bergerak berusaha melepas ikatan tangannya. Tapi ia juga merasakan penisnya sudah menyentuh kulit vagina Meli secara langsung, karena sisi CD Meli yang membasah tergeser ke samping.

Meli berusaha mengembalikan konsentrasinya, dan berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya naik dan vaginanya menjauh dari penis Pak Parman. Namun upayanya gagal, kini ikatan lakban justru mengancing posisi itu, Meli tak mungkin naik, hanya bisa turun ke bawah beberapa kali lalu naik lagi setelah ikatan melonggar kembali.

Meli mulai putus asa. Ia harus bisa lebih cepat melepaskan ikatan lakban itu sebelum penis Pak Parman mengakses lebih jauh vaginanya. Pikiran sadarnya masih berjalan dan menyadari sesaat lagi ia akan disetubuhi Pak Parman, dalam keadaan terpaksa begitu.

Konsentrasi Meli gagal. Gerakan Pak Parman dari bawah membuat kepala penisnya mulai masuk membelah bibir vagina Meli.

“Ough..,” Pak Parman tak kuasa menahan desah kenikmatan merasakan kepala penisnya menguak bibir vagina Meli. Ia terus bergerak berusaha melepas ikatan ditangannya yang tertindih tubuh, tapi setiap gerakannya membuat kepala penisnya mulai bermain keluar masuk di bibir vagina Meli.

Hal itu memberi sensasi kenikmatan pada Meli, ia masih berusaha diam diatas tubuh Pak Parman sampai ada kesempatan menjejak kaki agar vaginanya menjauh dari penis Pak Parman. Meli akhirnya berspekulasi. Sekali gerakan ke bawah, lalu sekuat tenaga menjejak kaki ke lantai tentu akan membantunya menjauhkan vaginanya dari penis Pak Parman.

“Enghhsshh.. ahh.., Pak jangan gerak duluhh.. ini nggak boleh terjadi Pak.” kata Meli, wajahnya bersemu merah. Tubuh dan wajah Meli serta kulitnya yang putih mirip dengan artis Mona Ratuliu.

“Iya bu.. saya juga pikir begitu. Tapi bagaimana lagi, posisi kita sulit berubah selama ikatan ini..,” jawab Pak Parman, ia juga menjadi serba salah dengan posisi itu.

“Oke Pak.. sekarang gini aja.. saya akan bergerak turun, dan mungkin itu akan terjadi.. anu Bapak bisa masuk ke anu saya.. tapi itu hanya sekali ya, dan saya akan mendorong ke atas membuatnya lepas lagi. Setelah itu kita konsentrasi lagi untuk melepas lakban sialan ini..,” kata Meli dengan nafas berat.

“Iya.. iya. Terserah ibu. Tapi tolong saya jangan dilaporkan ke atasan saya apalagi polisi bu. Kalau kontol saya masuk ke pepek ibu.. nanti saya dibilang memperkosa,” Pak Parman polos ketakutan.

“Hnnggaak Pak.. ini kan karena perampokan sialan itu, jadi bukan salah saya atau Bapak.. kita sama-sama berusaha keluar dari masalah ini kok.. sekarang Bapak diam ya.. saya akan berusaha. Ehmm… enghhmmmpp… ahssstt Pakkkk… ahhhkksss,” Meli mengerakan tubuhnya bergeser  ke bawah. Gerakan itu membuat bibir vaginanya yang sudah menjepit ujung penis Pak Parman menelan setengah penis itu.

Pak Parman sudah agak berumur, berkumis, dan badannya kekar. Penis Pak Parman dirasakan Meli lebih besar dan padat dari penis mantan suaminya. Meli merasakan sensasi nikmat saat kepala penis Pak Parman terbenam di vaginanya.

“Ayo bu.. dorong lagi ke atas biar lepas,” Pak Parman khawatir karena kini penisnya sudah mulai menyetubuhi Meli.

“Iya Pak.. hmmmpphh aahhss… pakkkk.. emmpphh.. ahssss,” Meli berusaha menjejak kaki ke lantai agar tuuhnya terdorong ke atas dan penis itu lepas dari vaginanya, tapi keadaan tak berubah, ikatan lakban mengancing bagian pinggang mereka membuat Meli tak mungkin menaikkan tubuhnya.

“Akhhss.. paakkk.. gimana inihh.. ahsss..,” Meli kembali diam tak bergerak, separuh penis Pak Parman yang dirasanya mebuat nafasnya semakin berat.

“Oke.. sekarang ibu diam saya biar tidak semakin masuk kontol saya. Saya akan berusaha melepas ikatan tangan saya bu.. engghhh,” Pak Parman mengangkat pinggulnya dan pantatnya menjauh dari lantai agar tangannya bisa bergerak bebas, lalu berusaha melepas dua tangannya dari ikatan lakban. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya.

Pak Parman melakukan itu beberapa kali. Pinggul dan pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses penisnya masuk lebih dalam ke vagina Meli. Meli sudah pecah konsentrasi, kini pikirannya hanya merasakan kenikmatan separuh penis Pak Parman yang keluar masuk perlahan ke vaginanya mengikuti gerakan pinggul Pak Parman.

“Akhhss paakkks ouhh.. akhhh.. ahkkk… enghhhmm,” Meli semakin mendesah, kini pinggul Meli melayani gerakan Pak Parman, ia malah berusaha agar penis Pak Parman terasa lebih dalam di vaginanya.

Tangan Pak Parman sudah terlepas dari ikatan dan kini bebas. Tapi libido yang sudah tinggi membuat Pak Parman bukannya melepaskan ikatan lakban di pinggang mereka, ia justru membuak kancing-kancing baju Meli dan meremasi payudara Meli.

“Emmphhh… banghhsss emmphhhhsss,” Meli semakin hilang kendali diperlakukan seperti itu, kini bibirnya menyambut bibir Pak Parman, mereka berkecupan sangat dalam dan cukup lama.

Pak Parman meloloskan susu Meli dari Bra-nya dan mulai menghisapi payudara Meli, lalu kedua tangannya mengarah ke bawah dan mengamit sisi CD Meli agar penisnya mengakses jauh vagina Meli. Saat itu penisnya sudah bisa masuk utuh ke vagina Meli, tangannya menekan dan meremasi pantan Meli membuat Meli semakin mendesis.

“Ouhgg.. ahhgg.. bu.., tangan saya sudah lepas.. kita bebasin dulu ikatannya atau bagaimana? ouhgg,” Pak Parman bertanya sambil menahan kenikmatan digenjot Meli. Ya pinggul Meli sudah cukup lama menggenjot P Pak rasojo membuat penis Parman bebas keluar masuk ke vagina Meli.

“Akhh Pakkk… sshh.. terserah Bapakk sekaranghhh.. ouhss..,” Meli sudah sangat melayang merasakan kenikmatan penis Pak Parman, apalagi rangsangan Pak Parman secara liar di payudaranya membuatnya semakin hilang kendali.

“Baik buhh.. akhh.. kalau begituhh kita tuntaskan duluh.. ouhsss..,” Pak Parman kemudian melepaskan ikatan tangan Meli tapi membiarkan ikatan di pinnggang mereka tetap seperti semula.

“Iyaahh Paakkk.. terusinnn duluhh… akhhsss.. ouhh…,” tangan Meli yang sudah bebas langsung merangkul leher Pak Parman dan keduanya kembali saling berpagutan, sementara gerakan pinggul Meli semakin liar.

Masih disatukan dengan ikatan di pinggang, Pak Parman membalik tubuh Meli sehingga kini Meli ditindihnya. Ia lalu menggenjot pantatnya membuat penisnya membobol vagina Meli secara utuh. Cairan vagina Meli menimbulkan bunyi kecilpakan setiap kali berbenturan dengan pangkal penis Pak Parman.

Meli merasakan gerakan Pak Parman makin keras dan makin cepat mengakses vaginanya, kenimatan mulai memuncak di klitorisnya seolah mengumpul panas hingga bongkahan pantatnya. Ia mengimbangi gerakan Pak Parman dengan menggoyang pinggulnya.

“Oughh.. paakkks… akhhsss.. sayaahhh pakkkk… akhhhsss say..ah..  sampaaiiihhh pakkkk… ouhhhggg…,” Meli merasakan klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis Pak Parman yang terus menerus menghujam. Tubuhnya menegang merasakan kontraksi otot vaginanya berkedutan intens mengantar kenimatan puncak.

“Aghh… ahhh… yehh… buhhh… akhhsss uhhh…mmmpphhh..,” Pak Parman membenamkan seluruh penisnya ke vagina Meli dan melepas spermanya menyembur dinding rahim Meli sambil bibirnya langsung melumat bibir Meli. Tubuh keduanya seakan menegang bersamaan mencapi klimaks seksual.

Beberapa saat setelah itu, Pak Parman lalu melapas iakatan lakban yang menyatukan pingang mereka. Mereka berdua lalu merapihkan busana masing-masing.

“Emm.. bu.. maafkan atas yang bausn terjadi bu. Saya hilaf… engg..,”

“Sudah.. sudah Pak. Lupakan saja ya.. saya juga hilaf..,” Meli memotong pembicaraan Pak Parman. Keduanya lalu berkenalan lebih jauh dan berjanji untuk sama-sama menyimpan kejadian itu hanya di antara mereka berdua.

Namun ternyata malam itu bukanlah malam terakhir dari episode kisah cinta Pak Parman dan Meli.

Bersambung…

Advertisements