Malam ini suasana di lingkungan sekitar rumahku agak sepi dari biasanya, selain karena malam yang sudah larut juga karena udara yang bertambah dingin setelah diguyur hujan lebat selama hampir 2 jam pada sore harinya.

Mungkin karena terbawa suasana, Meli yang saat itu belum bisa tidur dan memilih menghabiskan waktu dengan membaca majalah di teras rumah merasakan gejolak nafsu yang menggebu-gebu dari dalam dirinya. Sejak peristiwa perampokan yang berujung kenikmatan bersama Pak Parman, hansip komplek, sebulan yang lalu Meli belum lagi merasakan hangatnya belaian laki-laki.

Dari temaram lampu jalan, Meli melihat sosok yang sepertinya sudah tidak asing lagi. “Ah, itu kan Pak Parman!” bathinnya. Benar saja sosoknya nampak semakin jelas ketika beliau tepat melewati bagian jalan yang diterangi oleh lampu jalan.

Pak Parman saat itu sedang patroli sendirian. Sambil memakai pakaian hansip yang dibalut jaket berwarna hitam dan membawa pentungan, beliau berjalan santai sambil tetap memperhatikan keadaan sekitarnya.

“Bu Meli!” Meli yang saat itu sedang fokus membaca, tidak sadar ternyata Pak Parman sudah ada di depan rumahnya sambil tersenyum memanggil namanya. “Iya!” jawab Meli sedikit kaget. “Mampir dulu, pak, saya buatkan kopi.” Entah kenapa Meli seperti tidak sadar mengucapkan kata-kata itu.

Pak Parman yang saat itu masih berjalan pelan akhirnya berhenti dan mampir ke rumah Meli. Pikiran Meli saat itu sedikit kacau, selain masih merasa kikuk dengan peristiwa sebulan yang lalu, di sisi lain Meli juga merasa senang dengan kehadiran Pak Parman.

“wah, tidak merepotkan bu Meli?” sambil berdiri mematung di depan pagar. “Tidak, pak, masuk saja, saya kebetulan juga sedang tidak sibuk.”

Karena udara yang semakin bertambah dingin, akhirnya Meli mempersilahkan Pak Parman untuk masuk ke ruang tamu.

“Saya tinggal ke dapur dulu ya, pak..”

“Iya, bu maaf merepotkan,” jawabnya dengan sedikit malu.

m8aAtbzp.jpg large.jpg
Pak Parman

Sambil membuat kopi, entah kenapa Meli merasa senang sekali dengan kehadiran Pak Parman. Rasanya Meli rindu sekali dengan kumisnya, dengan tubuhnya yang berotot yang menggagahiku dengan perkasa, dengan ppenisnya, dan dengan permainannya yang hebat.

Tanpa Meli sadari, Meli yang saat itu hanya memakai daster tipis dengan dibalut jaket untuk menahan hawa dingin ketika diluar tadi, merasa berdesir mengingat kejadian sebulan yang lalu dengan Pak Parman.

Merasakan tubuh yang semakin berkeringat, akhirnya Meli melepas jaket yang sejak tadi dipakainya. Kini Meli hanya memakai daster tipis yang semakin menampakkan lekukan tubuhku yang aduhai.

“Silakan, pak, diminum kopinya.” Sambil membungkuk menaruh gelas di meja, Meli tidak sadar bahwa tindakannya itu telah menyalakan kembali api nafsu Pak Parman yang saat itu sedang memperhatikannya dengan seksama, terutama di bagian dada Meli yang menggantung indah.

“Iy, iya, bu.” Jawabnya agak terbata-bata.

Meli merasa, walaupun ketika di luar tadi hawanya begitu dingin, namun ketika di ruang tamu ini hawanya agak sedikit panas. Mulai muncul butiran keringat di tubuh Meli yang membuat beberapa bagian dasternya menjadi sedikit basah.

“Saya tutup, bu, pintunya. Dingin sekali soalnya, dan sudah larut.”

Meli baru sadar ternyata pintu rumahnya sudah dalam keadaan tertutup. Tidak apa-apa pikir Meli, selain hawa yang dingin, Meli sebenarnya juga takut kalau kedatangan Pak Parman malam-malam ini diketahui oleh tetangga sebelah.

“Oh, tidak apa-apa, pak..”

Ternyata, yang merasa panas bukan Meli saja, Pak Parman pun demikian. Sambil mengobrol, diperhatikannya pakParman juga agak berkeringat.

“panas ya, pak?”Tanya Meli.

“Iya, bu, agak panas hawanya di dalam rumah.”

Mungkin Pak Parman juga merasakan dorongan nafsu yang sama dengannya, pikir Meli.

“Dibuka saja, pak jaketnya!”

”Oh, iya bu, maaf ya”

“Oh ya, bu. Bagaimana soal kasus perampokan itu? Apakah sudah ditangkap pelakunya?”

“Kata pak polisi yang mengurusnya sudah pak, sekarang masih proses katanya.”

“Saya minta maaf ya bu, atas kejadian waktu itu.”

“Maksudnya, Pak?” pancing Meli, pura-pura tidak tahu.

“Itu lho, kejadian yang ehmm, ehmmm..” Jelasnya agak sedikit malu.

“Oh, iya pak, tidak apa-apa kok, saya justru….” Meli hampir kelepasan mengatakan “senang”..

“Justru apa, bu?” Selidik Pak Parman.

“tidak, pak, tidak jadi…”

1389026_731320156979496_633887763_n.jpg
Meli

Pak Parman saat itu tiba-tiba diam, sambil memandang Meli lekat-lekat.

Meli merasa kalau sebenarnya Pak Parman mengerti maksudnya. Kalau sebenarnya Meli senang dengan peristiwa sebulan yang lalu itu, kalau sebenarnya Meli rindu dengan permainan Pak Parman yang meskipun sudah menginjak kepala lima, masih hebat sekali staminanya.

“Ada apa ya, pak?” Tanya Meli sambil agak malu-malu.

“Bu…”, tiba-tiba meliau duduk mendekat, memegang tangan Meli, mengusapnya..

“Bu, sebenarnya, saya ingin…”

“Ingin apa, paa….”

Belum selesai Meli bicara, tiba-tiba Pak Parman langsung memeluk Meli dan memagut bibirnya, Meli yang saat itu belum siap akhirnya rebah ke sofa akibat dorongan yang kuat dari Pak Parman.

Pak Parman masih terus menggerayangi tubuh Meli sambil menciumi bibir Meli. Gejolak nafsu Meli yang dari tadi ditahannya akhirnya meledak juga. Perlahan Meli mulai berani melayani permainan Pak Parman di mulutnya…

“Saya ingin mengulangi peristiwa itu, bu!” Ucapnya sambil nafasnya terus mendengus menahan nafsu.

“Iyyyyyya pak.” Jawabku sambil menahan geli akibat gesekan kumis Pak Parman di bibirnya.

Mendapat lampu hijau, Pak Parman langsung bangkit. Meli saat itu masih terbaring di sofa, dengan pakaian yang sudah acak-acakan.

Pak Parman kemudian berjalan ke arah pintu, menguncinya dan mematikan lampu ruang tamu dan lampu depan rumah.

“Biar aman.” Ucapnya dengan senyum yang mengembang.

Ruang tamu saat itu menjadi temaram karena hanya mendapatkan cahaya dari ruang TV yang ada di sebelahnya.

Di suasana yang temaram itu, Pak Parman kemudian kembali menghampiri Meli. Meli yang masih berbaring, di dudukkannya di pangkuannya.

Mereka berciuman lagi, lidah Meli beradu dengan lidah Pak Parman.

Ciuman dan jilatan Pak Parman keudian turun di dada Meli. Sambil membuka dasternya dari atas, Pak Parman menjilati kulit Meli yang mulus terawat.

Kini bagian atas tubuh Meli hanya memakai BH saja. Dasternya sudah melorot hingga pinggang.

Dengan penuh nafsu, Pak Parman melepaskan BH yang ukurannya sedikit kekecilan menampung payudara Meli yang besar dan masih bagus itu. Pak Parman kemudian menjilati buah dada Meli dengan rakusnya.

Dimulai dari pinggir, kemudian sampailah di putting susunya yang berwarna coklat muda yang sudah mengacung tegak..

“Hmmmffffffffffft, Pak…” Tubuh Meli tak terkendali, hisapan Pak Parman sungguh membuatnya melayang. Hisapan yang disertai tarikan, gigitan kecil, dan gelitik dari kumisnya itu begitu membuat Meli merasa nikmat luar biasa.

Pak Parman begitu bernafsu dengan payudara Meli, kini keduanya Nampak kemerahan dan basah mengkilat akibat remasan, kecupan, dan jilatan dari Pak Parman.

Setelah sekian waktu menyusu payudara Meli kiri dan kanan, Pak Parman kemudian melepaskan daster dan celana dalam Meli.

Beliau kemudian menyuruhnya duduk di sofa. Sambil Pak Parman berdiri didepannya dan melepaskan satu-persatu bajunya.

Nampaklah tubuh hansip komplek yang masih sangat bagus, berotot, dan perutnya masih rata. Tanpa melepaskan celana dalam yang masih membungkus penisnya, Pak Parman kemudian berlutut di depan selangkangan Meli.

Tanpa basa-basi lagi, beliau langsung menciumi vagina Meli.

“Hmmmmmmmmm, harrummmm.”

Pak Parman langsung melumati organ kewanitaan Meli yang memang selalu dirawat dengan baik.

“Hmmmffffffffffftttttttttttt, Pakkkkk.” Terasa lidahnya mulai menjilati bagian luar kemudian mencoba memasuki vagina Meli.

Tangannya tidak dibiarkan menganggur. Tangan kanannya meraih payudara Meli dan meremas nya secara bergantian, sambil memilintir putingnya dengan gemasnya. Sementara jari-jari tangan kirinya membantu mulutnya mengerjai vagina Meli. Tangannya mengocok vaginanya dengan pelan kemudian keras sekali…

Meli yang mendapat rangsangan cukup lama di payudara dan vaginanya tak tahan lagi…

“Pakkkkkkk, aku keluarrrrrrrrrrrrrrrrrr…”

Pak Parman yang masih berada didepan selangkangan Meli, sambil menghisap habis cairan kepuasan yang tumpah akibat dikerjai Pak Parman tadi…

Pak Parman bangkit dan melepaskan celana dalamnya..

Penisnya yang cukup besar, dengan otot-otot yang menonjol itu mencari kepuasan.

Tanpa aba-aba lagi, Meli langsung menghampiri Pak Parman yang duduk disebelahnya. Ibarat seorang anak kecil yang mendapat permen lollipop, Meli dengan beringas langsung mencaplok penis Pak Parman. Kemudian di jilatinya dengan telaten hingga tampak penis Pak Parman menjadi basah mengkilap di semua bagian. Kemudian di masukkannya ke mulutnya dengan penuh nafsu.

Penis Pak Parman yang berukuran cukup besar dengan otot yang menonjol itu hanya bisa masuk separuhnya. Terlihat sekali, setiap kali Meli memaju mundurkan kepalanya, helm penis Pak Parman yang ukurannya besar itu seperti tercetak di pipi Meli dan mengenai bibirnya. Menimbulkan bunyi yang khas.

“Ohhhhhhhhhhhhhhhh, Bu…………”

Pak Parman saat itu hanya duduk, mendesah perlahan, dan menikmati sepongan Meli yang luar biasa di penisnya. Tidak ingin keluar cepat-cepat, Pak Parman kemudian menarik Meli untuk duduk di pangkuannya.

Sambil berusaha memasukkan penisnya ke vagina Meli yang telah dirasakannya sebulan yang lalu itu.

“Hffffffttttttttttttttttttt, Pak…..”

Meli menahan nafas menunggu detik-detik tubuhnya merasakan kembali penis yang membuatnya melayang tinggi itu..

Perlahan tapi pasti, akhirnya penis Pak Parman berhasi masuk seluruhnya. Meli dan Pak Parman saat itu diam sejenak, menikmati, dan mengenang kembali saat-saat yang sama sebulan yang lalu.

Dalam posisi duduk, Meli kemudian secara aktif menaik turunkan tubuhnya, menjemput kenikmatan dari seorang hansip kompleks tua yang ada di depannya.

Pak Parman tidak tinggal diam, sambil terus memegangi dan bermain di vagina dan vagina meli, mulutnya menyusu di payudara Meli yang putih montok.

Meli yang mendapat rangsangan begitu hebat, dan penis Pak Parman yang dengan perkasa mengaduk-ngaduk vaginanya, akhirnya tidak tahan lagi.

“Pakkkkk, aku keluarrrrrrrr……………….”

Tubuh Meli menghentak kaku, dipeluknya Pak Parman erat-erat. Pak Parman saat itu hanya diam terpaku. Pak Parman hampir kehabisan nafas ketika payudara Meli yang berukuran besar itu memeluk mukanya dengan erat…

“HHuhhhh, huuhhhhhh, …” Meli meikmati sisa-sisa orgasmenya.

“Pak, ke kamar yukkkkkkkkkkk, supaya lebih enak.” Ajak Meli kepada Pak Parman dengan manjanya..

Pak Parman hanya tersenyum puas. Laki-laki tua sepertinya berhasil memuaskan Meli yang berumur jauh lebih muda itu.

Dengan kondisi penis yang masih menancap di vagina Meli, Pak Parman membopong Meli ke kamarnya. Meli menjadi sangat kagum dengan kekuatan pak Tua yang tengah menyetubuhinya itu.

Sesampainya di kamar, Pak Parman langsung menggenjot tubuh meli. Dengan posisi Meli yang terbaring dan Pak Parman tanpa ampun menyodokkan kejantanannya itu dalam posisi berlutut. Kedua kaki Meli di bentangkannya ke samping, sambil tangannya berpegangan sekaligus meremas puting dan payudara Meli dengan gemasnya.

Meli yang tenaganya hampir habis setelah dua kali orgasme tadi hanya pasrah. Sambil tangannya berpegangan pada sprei Kasur dan sekali-kali bermain di putingnya Pak Parman.

Pak Parman kemudian berpindah posisi. Pak Parman kini berada di samping tubuh Meli.

Sambil menyetubuhi Meli dari samping, Pak Parman terus memberikan rangsangan pada vagina meli dan payudaranya…

“Ahhhhhhhhhhh, Pakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk…….”

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh, saya keluaarrrrrrrrrrrrrrrr Bu……..”

Pak Parman yang telah meyetubuhi Meli selama hampir satu jam, akhirnya roboh juga. Pak Parman membenamkan seluruh penisnya ke vagina Meli dan melepas spermanya menyembur dinding rahim Meli sambil bibirnya langsung melumat bibir Meli. Remasan di payudara Meli semakin keras..

“Sayyyyyyya jugaaaaaaa Pakkkkk.” Meli merasakan klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis Pak Parman yang terbenam begitu dalam sambil memuncratkan cairan hangat.

Pak Parman dan Meli masih terus berpelukan, menikmati orgasme yang mereka dapatkan secara bersamaan barusan.

“Saya ambilkan minum dulu ya, bu….” Ucap Pak Parman sambil turun dari ranjang.

“Iya, pak, terimakasih.”

Sambil beristirahat, Meli bersandar di dada Pak Parman yang bidang dan memainkan putingnya yang berwarna kehitaman. Diperlakukan seperti itu Pak Parman tidak tahan juga, nafsunya kembali muncul.

Meli dan Pak Parman kemudian saling berciuman dengan ganasnya. Tubuh yang sama-sama mengkilap karena berkeringat itu mulai saling merangsang satu sama lain.

Pak Parman mulai memposisikan diri di belakang Meli yang menungging. Rupaya Pak Parman ingin mencoba doggy style. Pemandangan Pak Parman yang berusahan memasukkan penisnya ke vagina Meli begitu menggairahkan.

Lengannya Pak Parman terlihat besar dengan otot-ototnya yang liat. Terutama otot bisepnya yang padat. Bahu dan dadanya tampak bidang. Puting susunya yang besar terlihat menghitam, terlihat serasi meghiasi bukit dadanya yang kokoh itu.

Begitu pula dengan bagian tubuhnya yang lain; pinggang yang ramping, punggung yang kokoh, pantat yang seperti dipahat, membuat Pak Parman terlihat sangat jantan. Penis hansip tua itu selain cukup besar, dengan bentuk kepalanya yang sangat indah. Seperti topi tempur para tentara.

Sementara Meli, tubuhnya begitu putih, mulus terawat, dengan perut yang masih ramping dan payudara yang menggelayut indah menggoda. Vaginanya yang merah muda yang dicukur rapi dengan hanya menyisakan sedikit rambut dibagian atas itu begitu menggoda laki-laki untuk memasukkan senjatanya.

Penis Pak Parman kini sedang memasuki vagina Meli. Sementara Meli yang dengan tangannya aktif mengarahkan penis itu ke vaginanya.

“Hfffffffttttttttttttt, terus Pakkkkkkkkkkk.” Desah Meli sambil menahan nikmat.

Mulailah Pak Parman menggerakkan pantatnya maju-mundur mendorong masuk kemaluannya. Meli sendiri tidak mau kalah tanggap dari aksi Pak Parman, dia spontan menyongsongkan pantatnya ke belakang untuk melahap penis yang telah memberikan kenikmatan kepadanya itu.

Beberapa saat kemudian, diiringi dengan rintihan sakit sekaligus desahan nikmat yang keluar dari mulut Meli, lelaki tua itu mulai leluasa mengayun-ayunkan pinggul dan pantatnya untuk memompa penisnya masuk-keluar menembus vagina Meli. Tak lama berayun, Pak Parman merubah posisinya. Tubuhnya rebah menindih tubuh Meli, sambil mulutnya mencium dan melumat tengkuk Meli. Kedua tangannya yang kekar meraih lalu meremas-remas buah dada Meli yang besar dan montok itu.

Mata setengah tertutup. Kepalanya terkadang mendongak dan di lain waktu merunduk, bagaikan seekor kuda yang terancam bahaya. Sesekali dia kibaskan kepalanya dengan cepat. Rambutnya yang hitam dan indah, spontan terlempar ke belakang, menyapu wajah Pak Parman yang juga sudah dalam keadaan setengah sadar.

Bibir Pak Parman tidak henti-hentinya memagut tengkuk atau punggung Meli yang sudah berkilat karena keringatnya. Pantat lelaki itu terus berayun penuh irama dengan sangat indahnya. Naik-turun, maju-mundur, semakin cepat dan kasar. Mulut Meli sesekali menyeringai pedih, di lain saat tersenyum penuh nikmat.

Tubuh Meli semakin basah mengkilat oleh keringatnya. Begitu pula dengan Pak Parman. Tubuh kekarnya jadi tambah seksi karena keringatnya yang mengucur deras. Wajahnya disapunya secara berkala agar matanya tidak terbasahi oleh keringatnya sendiri. Mereka benar-benar sedang berpacu dengan hasrat birahinya yang meledak-ledak.

Kedua bola mata Meli tampak liar berputar-putar, tanda begitu nikmatnya dia dipompa Pak Parman. Pompaan penis Pak Parman semakin mendekati garis finalnya. Dinding vagina Meli mungkin sedang asyik meremas-remas batang penis penis Pak Parman. Hingga beberapa saat kemudian datanglah puncak orgasme mereka secara hampir bersamaan. Keduanya menjerit histeris dengan Meli yang lebih dahulu berteriak, yang lalu disusul dengan Pak Parman.

“Aggghhh…Aaahhhsss…Aaawwwsshhh…Saya Sampaisshh Pakkkk!!” jerit Meli dengan mata terbeliak dan kepala mendongak ke atas.

Pak Parman menjawab jerit histeris Meli dengan menyambar rambutnya dan menjadikannya tali kekang. Dia menghela Meli bagai kuda tunggangannya. Dia berteriak dan mendesis. Lalu penisnya menyemburkan sperma panas yang kelihatan sangat kental dan banyak ke dalam lubang Meli. Bertubi-tubi sperma memancar yang di dahului kedutan urat-urat batangnya, menyemprot dari lubang penisnya.

“Ooowwhhh…Melishhh…Aagghhh…Aaahhh…Aaahhh…Saya…Jugaahh
Sampaihhhss Bu!!”

begitulah jerit nikmat Pak Parman kemudian. Secara bersamaan keduanya tumbang dan rubuh ke ranjang. Untuk beberapa saat, kemaluan Pak Parman tidak dilepasnya dari lubang Meli. Mereka terdiam beristirahat, mencoba mengatur nafas setelah keduanya sampai di puncak ejakulasinya tadi.

Dalam posisi diam, Pak Parman sepertinya ingin tetap mempertahankan penis yang terbenam dalam vagina itu. Dari arah belakang Pak Parman justru mempererat rangkulannya, dan begitu pula sebaliknya, Meli semakin kencang memegang lengan berotot Pak Parman.

 

Bersambung…

 

Advertisements