Adegan diam itu berlangsung bagaikan sikap pantomim. Berlangsung bermenit-menit. Kali ini giliran Pak Parman yang bergerak. Dia memajukan wajahnya agar bisa mencium Meli, yang dengan spontan disambut oleh Meli.

Pak Parman dan Meli kemudian tertidur dalam kondisi saling berpelukan dengan lengketnya.

Setelah tertidur selama beberapa jam, Meli terbangun. Dilihatnya jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Meli langsung berpikir bahwa dia harus membangunkan Pak Parman agar tidak ada warga yang melihat bahwa semalaman Pak Parman menginap di rumahnya dan memberikan kepuasan yang tiada tara.

Maka Meli singkirkan tangan Pak Parman yang saat itu masih menangkup payudaranya. Dia bangunkan Pak Parman dengan kecupan lembut di bibirnya, di dadanya, dan di selangkangannya.

Penis Pak Parman yang masih lemas membuatnya tergoda mempermainkannya.

“Hmmmm, walaupun lemas tapi besar juga yaa…” Bathinnya..

Akhirnya dijilatinya, dikulumnya, dan disedotnya dengan perlahan hingga empunya terbangun..

“Bu Meli, nakal ya.” Ucap Pak Parman sambil matanya masih setengah tertutup.

“Pak, sudah jam 3, Bapak harus segera pergi nanti ketahuan warga..” Ucap Meli setelah terlebih dulu melepaskan permen Pak Parman dari mulutnya.

“Heeeeeeemmmmmmm, iya Bu.”

Meli kemudian menaiki tubuh Pak Parman yang masih berbaring. Dia kecup bibir lelaki tua itu dengan lembutnya. Tindakan meli yang semula ditujukan agar Pak Parman segera bangun dan pergi daru rumahnya ternyata malah berakhir sebaliknya.

NQK81nqU.jpg large.jpg
Pak Parman

Pak Parman dengan tindakan yang tidak disangka-sangka malah memberikan rangsangan balik ke Meli. Masih dalam keadaan gancet saat tubuh yang satu lengket pada tubuh lainnya, mereka saling berciuman dan melumat bibir. Bibir Meli membuka dan mengatup merespon bibir Pak Parman. Mereka saling menghisap bibir lawannya dan bertukar lidah. Mereka tampak saling menikmati percumbuan panas itu.

Dengan cara seperti itu rupanya mereka ingin memulai kembali permainan syahwat birahinya di dini hari yang dingin itu. Mereka melakukan pemanasan, ingin mengulang kembali puncak orgasme yang mereka yang dapatkan dari persetubuhan semalam.

Mereka mulai berancang-ancang memasuki tahap persenggamaan lanjutannya. Ciuman mereka berkembang menjadi semakin panas. Mulut Pak Parman mulai turun merambahkan ciumannya ke dagu Meli. Terdengar desahan tertahan dari mulut Meli merasakan lehernya dirambah mulut Pak Parman. Penis Pak Parman menengang dan menggesek-gesek lubang Meli dari luar.

Mulut hansip tua itu terus bergerilya di leher Meli, lalu menggigit mesra lehernya. Meli terpekik pelan merasakan gigitan birahi Pak Parman. Kedua tangannya merangkul erat leher lelaki yang sedang mencumbui lehernya itu dan mulai mengelus-elus kepala Pak Parman dengan sepenuh hati.

Mulut lelaki tua itu bergerak turun ke bawah. Sesaat lidah kasarnya di balurkan untuk menjilati bahu dan ketiak Meli. Kemudian mulut itu kembali berulah. Digigitnya gemas bahu dan ketiak sensual Meli yang spontan disambut Meli dengan pekikan-pekikan pelan yang begitu merangsang siapa pun yang mendengarnya.

Akhirnya tibalah pengembaraan mulut Pak Parman di kedua gunung kembar Meli. Kedua payudara yang sudah tidak utuh lagi warnanya itu, menjadi sasaran keganasan mulut dan lidah Pak Parman. Pak Parman menjilat, menyedot, menghisap, dan menggigit dengan gemas putting-putingnya secara bergantian, membuat Meli bergelinjangan sambil mendesah nikmat tiada henti-hentinya. Meli spontan meliuk-liukkan tubuhnya bak ular kobra dalam tangkapan, merasakan nikmatnya disusui oleh Pak Parman.

Berikutnya giliran Meli yang ganti beraksi. Dia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Parman. Dia menjalarkan mulutnya untuk menciumi leher Pak Parman. Dia jilat, ciumi, lalu gigit leher yang kokoh itu. Kemudian mulutnya mulai turun melata dari leher menuju ke dadanya.

Otot-otot kekar lelaki itu menjadi sasaran hasrat birahi Meli. Dia menggigit, menjilat, dan mencium penuh dendam bukit dada Pak Parman. Meli tampak sangat menikmati saat mendengar dan merasakan Pak Parman menggelinjang dan mengaduh nikmat.

Meli menjadi bertambah liar. Rambahan lidahnya di dada Pak Parman diikuti dengan gigitan-gigitan kencang tapi lembut. Meli tampaknya ingin membuat cupang-cupang di dada Pak Parman yang sangat seksi itu. Sekejap kemudian dada yang penuh dengan otot itu sudah penuh bekas cupangan Meli. Tak lupa putting-putting dada Pak tua itu dijilati dan disedotnya dengan rakus, seperti anak kecil yang menyedot permen favoritnya.

Tidak mau kalah dengan mulutnya, tangan-tangan Meli juga bergerak liar, berusaha menggapai otot-otot kekar di tubuh Pak Parman. Tangannya bergerak meremas, mencengkeram, dan tak jarang juga mencakar.

Ciuman Meli terus turun melata ke perut Pak Parman. Tampak Meli tak melewati seinchi pun ciuman dan jilatannya pada serat-serat otot perut Pak Parman.

1389026_731320156979496_633887763_n
Meli

Tangannya dengan sepenuh perasaan merintis dengan rabaan dan remasan lembutnya merambah ke wilayah penis Pak Parman. Sesaat kemudian mulut Meli bergerak mengikuti jejak tangannya. Lidah dan mulut Meli menjalari jalur jari-jarinya untuk menjilat dan mengulum batang Pak Parman. Seperti si buta dengan tongkatnya, jari-jari Meli menjadi pedoman bagi mulut dan lidahnya, berupaya melumat penis Pak Parman.

Jari-jarinya sedang asyik mengelus-elus batang yang tegar-kaku serta hangat, menuntun jalur rambahan mulut dan lidahnya. Ketika mulut dan lidah Meli mulai menyentuh, mencium dan menjilati batang penisnya, Pak tua itu segera mendesis.

Kenikmatan erotis yang sungguh luar biasa telah menimpa dirinya. Tangannya yang kekar spontan mencengkeram rambut Meli dan meremas kulit kepalanya. Dia seakan ingin menebar rasa pedih pada kulit kepala Meli. Dia ingin mendengarkan rintihan sakit tapi nikmat dari mulut Meli.

“Ohhhhhhhhhhhh, terus Bu…………..!”

Kedua tangan Pak Parman menekan keras kepala Meli. Dia tunjukkan gairah hewaniahnya, penisnya dia masukkan lebih dalam ke mulut Meli. Dia ingin Meli melumati penisnya. Tak lama mengulumnya, Pak Parman dengan cepat berbalik. Dia dorong Meli untuk telentang.

Dengan lihainya Pak Parman membalikkan tubuh Meli hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepala Pak Parman berada di bawah selangkangannya sementara kepala Meli berada di bawah selangkangannya. Keduanya kini sudah berada dalam posisi enam sembilan!

Dalam posisi ini baik Meli mau pun Pak Parman menjadi lebih bebas menikmati kemaluan pasangannya. Dengan rakusnya. Meli berusaha mengulum batangan yang kaku-tegar dan hangat itu hingga pipinya menggembung penuh. Walaupun begitu usahanya untuk menelan keseluruhan kemaluan Pak Parman sering gagal, karena ukurannya yang besar.

Sementara kedua tangan Meli tidak mau kalah dengan mulutnya. Kedua tangannya seakan berlomba memberikan kepuasan seksual pada kemaluan lelaki itu dengan meremas-remas batang dan kantung kemaluannya.

Pak Parman juga tampaknya tidak mau kalah. Dia jilat dan sedot habis-habisan kemaluan Meli. Dia hisap dan tusukkan lidah kasarnya dalam-dalam ke vagina Meli. Bersamaan dengan lidahnya, dia mainkan pula jari-jari tangannya yang besar menembus lubang vagina dan vagina Meli.

Kemaluan Meli semakin membanjir oleh cairan birahinya, karena rangsangan tanpa henti dari lidah dan tangan Pak Parman. Keduanya terus menerus berlomba memberi kepuasan, dengan erangan nikmat yang terdengar tidak berkeputusan dan sahut menyahut.

Posisi erotis kedua ini berlangsung cukup lama hingga akhirnya, Pak Parman kembali bergerak. Pak Parman merubah posisinya, dengan mengembalikan Meli ke atas tubuhnya. Kemudian dia posisikan Meli duduk di atas selangkangannya dengan lubang vagina Meli tepat berada di atas kemaluannya. Lalu perlahan tapi pasti dituntunnya penisnya oleh tangan Meli kembali memasuki lubang vaginanya yang memang sudah begitu kelaparan ingin melahapnya.

Kemudian keduanya mulai membuat gerakan, yang satu memompa keluar masuk, sedangkan yang lain memompa naik turun. Gerakan keduanya semakin cepat dan kasar seiring dengan membanjirnya keringat di tubuh masing-masing. Sambil terus asyik memompa vagina Meli, kedua tangan Pak Parman tidak lepas meremas-remas payudara besar Meli bergantian.

Pak Parman kemudian melipat kedua tangannya yang berotot itu di belakang kepalanya, seakan ingin memamerkan ketiaknya yang berbulu jarang itu dan menikmati goyangan salah satu warga di kopleknya itu.

Pak Parman terlihat begitu menikmati ekspresi wajah Meli yang sedang dalam setengah sadar dalam pompaan penisnya. Sementara Meli sendiri asyik meremas-remas payudaranya yang besar dan montok itu secara bergantian.

Sesekali Meli rebahkan tubuhnya untuk bercumbu dengan Pak Parman, saling melumat bibir dan bertukar lidah. Tangannya dia rambahkan ke otot-otot dada dan perut Pak Parman, membuat gerakan meremas dan mencakar.

Tidak lama sampailah Pak Parman di puncak orgasmenya, dengan Meli yang kembali lebih dahulu mencapai puncak orgasmenya. Beberapa sebelum sampai di puncaknya, Pak Parman segera mencabut penisnya dari vagina Meli lalu dia rubah posisinya.

Dia tidurkan Meli kembali, lalu Pak Parman angsurkan penisnya untuk dijepit payudara Meli. Meli membantu gerakan Pak Parman dalam menggauli payudaranya. Dia pegangi payudaranya yang menjepit erat penis Pak Parman. Kemudian setelah digosok-gosokkannya beberapa saat, dengan teriakan histeris memancarlah sperma Pak Parman ke dada, leher, dan wajah Meli. Sperma-sperma yang begitu kental dan banyak itu, memancar deras membasahi hampir sebagian besar wajah Meli, mulai dari mata, pipi, rambut, hidung, leher, dan payudaranya.

Pak Parman terus mengocok penisnya, berusaha untuk memastikan tidak ada spermanya yang tersisa di batangnya. Setelahnya dia rebahkan dirinya ke samping Meli. Sebagian spermanya yang memancar, diraih oleh Meli lalu ditelannya dengan sepenuh perasaan.

Sisa sperma Pak Parman diraihnya lalu di balurkannya ke seluruh tubuhnya sendiri, termasuk ke rambutnya hingga tidak ada spermanya yang tersisa. Untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Keduanya tetap berbaring beristirahat, mencoba mengatur nafas setelah pergumulan yang seru dan dahsyat tadi.

Setelah puas beristirahat, Pak Parman beranjak turun dari tempat tidur. Pak Parman mengambil pakaiannya yang terserak di lantai dan mulai memakainya satu persatu. Meli nampak merasa sangat kehilangan. Apalagi ketika tubuh Pak Parman yang masih berkeringat, dan terihat begitu seksi itu, tertutup kembali di balik pakaiannya.

 

Bersambung…

Advertisements