“Maaf rumahnya gelap, Mbak.” ucap pemuda yang membimbingku sambil menyalakan korek apinya dan membuka pintu rumah yang kelihatannya tidak terkunci.
Aku mengikutinya masuk diikuti kedua teman si pemuda yang segera menutup pintu dan ikut menyalakan korek apinya. Pengap sekali rumah ini. Di dalamnya nampak banyak sarang laba-laba dan hanya ada satu dipan dengan tikar tua di atasnya.

“Saya memang jarang tinggal di sini, mbak. Jadi rumahnya kurang terurus. Paling ke sini cuma untuk istirahat tidur saja seminggu sekali,” jelas si pemuda sambil membersihkan dipan dan tikar dari sarang laba-laba.
“Silakan istirahat di sini, Mbak.” dia mempersilakanku.
Aku duduk di tempat yang sudah dibersihkannya. Sedangkan temannya sibuk memasang lilin yang entah dari mana dapatnya, sehingga tidak harus memegangi korek apinya terus.

“Mbak sakit ya..?” tanya pemuda itu setelah duduk di samping kiriku.
Samar-samar kulihat tato bunga mawar kecil di lengan kanannya yang berotot.
“Tt.. tidak,” sahutku.
Dari tadi rasanya berat sekali mulut ini untuk bicara. Lalu aku menunduk lagi.
“Kalau tidak, kenapa kami temukan tidur seperti orang pingsan di bawah pohon..?”
“Saya tidak tahu, Mas,” jawabku masih dalam keadaan serba bingung dengan peristiwa yang kualami.
Untuk menceritakan pengalamanku dengan Pak Kosim aku juga malu.

“Wajah Mbak juga kelihatan pucat sekali. Lebih baik tiduran saja di sini..”
Lalu kurasakan tangannya merangkul pundakku, dan setengah menarikku untuk berbaring di dipan yang telah dibersihkannya. Aku yang menerima maksud baik itu menurutinya. Kubaringkan tubuhku.
“Kepalanya dipijit ya, Mbak, biar pusingnya hilang,” ucapnya lagi sambil merapatkan duduknya kepadaku.

Sebentar kemudian kurasakan pelipisku dipijatnya. Mula-mula aku jengah juga dipijat seperti itu oleh seorang pria, namun lama-lama kubiarkan juga. Kepalaku memang terasa agak berat setelah mengalami peristiwa aneh tadi. Wajah kami berhadap-hadapan. Beruntung suasananya cukup gelap untuk menyembunyikan rona merah wajahku. Kupejamkan mataku untuk mengurangi rasa jengah itu. Kunikmati pijatannya. Sejenak kemudian kurasakan tangannya turun memijati pundakku dan.. kurasakan hembusan nafas di wajahku. Kubuka mataku dan kulihat wajah pemuda itu dekat sekali di atasku.

“Mbak..” bisiknya pelan, lalu kurasakan desahan nafas itu semakin dekat dan semakin dekat hingga.. menerpa bibirku yang segera diciumnya.
Sementara tubuhku pun kurasakan sudah ditindihnya. Aku tidak sempat mengelak. Apalagi ia juga memegang kepalaku dengan tangan kekarnya, sehingga untuk menggeleng pun aku tidak bisa. Mau tidak mau ciuman itu harus kurasakan, juga ketika lidahnya membeliti lidahku dan menelusuri langit-langit mulutku.

Aku ingin memberontak, tapi rasanya tidak berdaya. Malahan aku ingat pengalamanku dengan Pak Kosim yang masih membekas, dan sedikit demi sedikit birahiku kembali meletup. Ada pertentangan antara keinginan menolak dan memenuhi gairah birahiku. Dan ternyata yang belakangan ini yang menang, apalagi setelah kemudian juga kurasakan belaian tangan-tangan kedua teman si pemuda di daerah sensitifku. Dengan cepat aku terangsang.

Aku tidak ingat lagi kapan mereka membuatku seperti bayi yang baru lahir. Yang pasti, peristiwa seperti dengan Pak Kosim terulang lagi. Bedanya, kali ini aku melayani tiga pemuda bertubuh kekar. Entah berapa kali mereka menggilirku. Memuaskan syahwatnya di atas tubuhku selama berjam-jam. Anehnya aku tidak merasa lelah. Mungkin pengaruh minuman yang diberikan Pak Kosim masih bekerja, baik sebagai perangsang maupun obat kuat. Aku seperti orang ketagihan dipuasi terus menerus, tidak perduli sudah berkali-kali orgasme.

Terang sinar matahari yang panas menerobos dari lubang-lubang atap menyilaukan dan membangunkanku dari tidur. Kudapati tubuhku masih tergolek telanjang di dipan beralas tikar. Pakaianku berserakan. Cepat aku sadar dan berusaha bangkit meraihnya, namun tubuhku kembali ambruk ke dipan. Lututku gemetaran. Luluh lantak rasanya badanku, bergerak sedikit saja terasa sakit semua. Terpaksa aku merambat perlahan menuruni dipan, lalu memunguti pakaian.

Dengan berpegangan dinding, kucoba berjalan keluar tertatih-tatih. Terasa agak nyeri di selangkanganku. Pasti gara-gara dirajam oleh ketiga pemuda yang sudah tidak terlihat lagi bayangannya itu. Ternyata aku telah tertipu oleh para pemuda yang nampaknya alim dan kukira pemilik rumah itu. Dengan cara yang amat halus, aku telah menjadi korban mereka. Gara-gara obat perangsang Pak Kosim pula aku tidak menolak untuk melayani nafsu mereka, oh..

Dengan berpegangan pagar atau pepohonan, aku berjalan pelan menuju ke rumah. Kuusahakan tidak ada orang yang melihatku. Sengaja aku lewat jalan yang semalam kulalui untuk melihat potongan-potongan kayu yang kupasang. Ternyata memang masih ada. Berarti semalam aku tidak bermimpi ketika berjalan menuju ke rumah Pak Kosim. Segera kusimpulkan, pasti aku telah diguna-guna oleh pria itu. Baru setelah agak dekat ke rumah, kukuat-kuatkan untuk berjalan biasa meski harus menahan sakit.

Sampai di rumah, segera aku masuk ke kamar dan langsung menjatuhkan tubuh lunglai ini ke ranjang. Aku menangis sedih teringat apa yang telah terjadi. Tanpa kuasa menolak aku telah terjerumus ke lembah perzinahan. Pertama, aku melayani Pak Kosim hingga dua kali. Kedua, menjadi korban kebiadaban tiga pemuda yang telah memanfaatkan kondisiku yang tidak wajar waktu itu. Baru setelah matahari berada di puncaknya, kupaksakan untuk membersihkan diri. Mandi dan mencuci segala noda yang menempel.

Dalam kesendirian sekarang ini, kurasakan hidup terasa jadi berat sekali. Suami tempatku bersandar tiada lagi. Anak-anak pun jauh di rantau. Tinggallah aku sendiri, di usia menjelang 40 tahun ini harus memutuskan segala sesuatunya sendiri. Meski tubuhku sudah sehat kembali, dua hari aku tidak keluar rumah. Aku masih tergoncang oleh peristiwa durjana yang kualami. Beberapa tetangga dan pelanggan cucianku sampai berdatangan. Aku hanya memberi alasan sedang tidak sehat. Mereka pun maklum kalau kemudian selama seminggu itu aku tidak mencucikan pakaiannya.

Tiga hari berikutnya, kuputuskan untuk berupaya melawan guna-guna Pak Kosim. Pagi-pagi sekali sebelum jalanan ramai, aku sudah pergi ke desa Sumbersari, sekitar 25 km dari kotaku. Aku pernah dengar di sana ada seorang dukun atau semacam paranormal yang dapat mengobati bermacam penyakit dan membantu orang-orang yang kena teluh atau guna-guna. Dengan berganti kendaraan dua kali ditambah sekali naik ojek, sampailah aku ke rumah dukun yang bernama Mbah Purwo itu. Rupanya memang dia sudah terkenal sampai tukang ojek pun tahu rumahnya.

“Saya sudah biasa mengantar orang ke sini, Mbak,” kata si tukang ojek.
“Lalu pulangnya nanti bagaimana, Mas?” tanyaku.
“Kita janjian saja, Mbak. Nanti saya jemput ke sini sekitar tiga jam lagi bagaimana..?”
“Baiklah kalau begitu. Sekarang jam 8 pagi, berarti nanti jam 11 Masnya ke sini ya,” pintaku sambil melihat jam tangan.
“Ya, Mbak. Sekarang saya mau kembali dulu ke pangkalan.”

Masuk ke rumah dukun itu ternyata saya harus menunggu, karena sedang ada pasien di dalam. Pagi benar ia datang? Beruntung tidak sampai satu jam mereka telah selesai. Kulihat seorang pemuda keluar dari ruang praktek Mbah Purwo. Jalannya nampak tergesa-gesa tanpa menoleh kiri-kanan. Mungkin takut kedatangannya diketahui orang lain. Pada umumnya memang orang-orang yang datang ke tempat semacam itu tidak mau diketahui orang lain. Persis seperti orang yang datang ke tempat judi atau pelacuran saja, pikirku. Kenapa harus malu kalau memang kita tidak berbuat yang memalukan? Mungkin pemuda tadi telah berbuat hal yang memalukan?

Kumasuki ruang praktek Mbah Purwo. Nampak agak remang-remang karena lampunya yang dipasang hanya balon sekitar 15 watt.
“Selamat pagi, Mbah,” sapaku pada pria yang ternyata usianya masih separuh baya itu.
Aku geli karena seumur ini sudah dipanggil “Mbah” yang berarti kakek tua.
“Pagi, mbak. Ada yang bisa saya bantu..?”

uzzfIF9g.jpg large.jpg
Mbah Purwo

Setelah memperkenalkan diri saya berkata, “Iya, Mbah. Saya mengalami peristiwa aneh. Bahkan sampai dua kali.”
“Peristiwa apa itu, Mbak Surti?”
“Begini, Mbah..” lalu kuceritakan semua yang kualami dengan Pak Kosim. Tentu saja aku tidak menceritakan pengalamanku yang amat memalukan dengan ketiga pemuda berandal itu.
“Jadi Mbak menduga Pak Kosim memakai guna-guna untuk menguasai, Mbak, begitu?”
“Iya, Mbah. Kalau tidak, mana bisa saya sampai begitu menurut.”
“Ng.. baiklah. Coba saya lihat telapak tangan kiri Mbak Surti..”
Kusodorkan telapak kiriku pada Mbah Purwo yang kemudian memegang dan mengamatinya. Kemudian ia memejamkan mata dan beberapa kali membuat tanda silang dengan jarinya di telapakku.

Setelah beberapa menit, barulah ia membuka matanya.
“Aduuhh.. karena kejadiannya sudah tiga hari, saya tidak mampu melacaknya hanya melalui tangan yang sudah seringkali dicuci,” ungkap Mbah Purwo, kemudian melanjutkan, “Maaf, Mbak, kalau tidak keberatan saya akan melacaknya melalui bagian tubuh Mbak yang kemungkinan besar masih meninggalkan bekas keringat atau cairan tubuh Pak Kosim..”
“Bagian tubuh yang mana, Mbah?” tanyaku.
“Sekali lagi maaf, Mbak. Kemungkinan yang pertama ada di bibir, dada atau bagian tubuh lain yang pernah dicium, sehingga air ludah atau keringat Pak Kosim menempel di situ. Yang kedua adalah bagian kemaluan yang menerima siraman air maninya. Sudah tentu yang kedua berkemungkinan lebih besar karena bagian itu terletak di dalam sehingga tidak mudah hilang walau sudah mandi beberapa kali.”
Mendengar ini aku tercenung sejenak, berpikir untung-ruginya bila memenuhi permintaan itu.

“Apa tidak ada cara lain, Mbah?” aku coba mengelak.
“Ada sih ada Mbak, tapi ini berarti Mbak harus pulang dan berusaha mendapat pakaian yang baru dikenakan Pak Kosim dan masih dilekati keringatnya. Dan pakaian itu tidak boleh dicuci. Saya harus mendapatkan pakaian itu hari ini juga sebelum daya magis yang mempengaruhi Mbak hilang seluruhnya.”

Sebenarnya tidak sulit untuk mendapatkan pakaian itu, karena aku biasa mencucikan pakaian keluarga Pak Kosim. Tapi sekarang aku terbentur soal waktu. Rasanya tidak mungkin mendapatkannya hari ini langsung aku harus kembali ke sini lagi. Bisa-bisa aku nanti harus menginap. Akhirnya, setelah kupikir-pikir kupilih cara pertama, yakni mengambil bekas cairan tubuh yang masih menempel di tubuhku. Toh ini sama seperti kalau aku diperiksa dokter, pikirku.

“Silakan buka pakaian di kamar itu, Mbak,” instruksi Mbah Purwo sambil menunjuk ke sebuah bilik kecil tertutup berukuran sekitar 1,5 kali 2 meter di sudut kamar prakteknya yang cukup luas.

Kumasuki bilik kecil itu yang penerangannya hanya lampu merah lima watt. Segera setelah pintu kututup, kucium bau dupa harum dan seperti cendana yang menyengat. Bau tadi berpadu dengan bau bunga melati yang bertebaran di atas dipan berkasur tipis di ruang itu. Mula-mula seram juga dengan suasana itu, tapi kemudian bau itu terasa semakin harum di hidungku. Semakin menyegarkan dadaku yang menghirupnya. Kubuka gaunku, seperti bila sedang memeriksakan diri ke dokter kandungan. Lalu kubaringkan tubuhku telentang di atas kasur.Bermenit-menit kutunggu Mbah Purwo, tapi belum juga datang, sampai mataku terasa mengantuk lalu kupejamkan. Kuhirup bau-bauan harum di ruang itu sepuasnya. Betapa nikmat kalau aku dapat terus beristirahat dalam suasana tenang dan harum seperti ini.
“Maaf, Mbak..” entah kapan masuknya, mendadak saja kudengar suara Mbah Purwo di sampingku.
Mata segera kubuka dan kulihat pria itu bertelanjang dada. Dadanya nampak berbulu lebat dan kekar. Besarnya hampir dua kali tubuhku. Dia memakai kalung dengan liontin berbentuk patung kepala ular.
“Tolong mulutnya dibuka!” perintahnya.

CB555T-UgAENz_g
Aku

Kubuka mulutku lalu sebentar kemudian jari telunjuk kanannya dimasukkan. Jari yang besar panjang itu kemudian merayapi langit-langit mulutku. Kadang berhenti sejenak dan menekan-nekan di suatu tempat. Lalu bergerak lagi hingga beberapa menit. Karena capai membuka mulut, maka aku mengatupkan bibir sedikit. Yang penting toh jarinya masih bisa bergerak, pikirku. Mbah Purwo diam saja, dan jadilah aku seperti orang yang sedang mengulum jarinya. Kututup mataku kembali karena agak jengah dengan situasi ini. Diputarnya jari itu beberapa kali di sepanjang langit-langit, pipi hingga bagian bawah mulutku. Akhirnya berhenti dan ditempelkan ke lidahku.

“Hisap, Mbak. Hisap yang kuat!” perintahnya lagi dengan suara terdengar keras.
Dengan canggung-canggung aku menurutinya. Pertama kuhisap sedikit, lalu kulepaskan sambil menelan ludah. Terasa manis jari tangannya.
“Lagi, mbak. Yang lebih kuat!” suara keras itu terdengar lagi.
Maka bagai tersugesti aku sekarang menghisapnya lebih kuat. Herannya, rasa manis pada jari itu seperti tidak berkurang. Aku seperti sedang mengulum kembang gula yang tidak habis-habis sari manisnya, kuhisap dan kutelan rasa manis itu berlama-lama.

 

Bersambung…

 

Advertisements